ILUSTRASI
Ayo Bagikan Berita Ini

INTELMEDIA- BOGOR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sudah memutuskan memperpanjang libur sekolah semua tingkatan hingga 11 April 2020. Keputusan memperpanjang libur sekolah diambil setelah Pemkot Bogor menyatakan kejadian luar biasa (KLB) Corona dan belum ada tanda-tanda wabah Coronavirus Diseases (COVID-19) mereda. Hal tersebut tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Bogor yang ditandatangani Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, Selasa (24/3/2020).

Menanggapi, siswa sekolah di rumahkan, Manager Area, Family Strengthening Programme (FSP) SOS Children’s Villages Jakarta, Fery Ariyanto menyampaikan, keputusan tersebut sudah tepat.

“Menurut saya, keamanan dan keselamatan peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan harus menjadi prioritas utama. Saya juga mendukung penundaan Ujian Nasional (UN) jika memang diperlukan,” tukas Fery saat diwawancarai di kantornya, Jalan Kapten Yusuf, Cikaret, Kota Bogor, Selasa (31/3/2020).

Menurut pimpinan NGO Internasional yang memfokuskan pada pendampingan anak tersebut, kebijakan itu idealnya juga diselaraskan dengan menggratiskan iuran sekolah di sekolah swasta dan SMA, SMK atau MA negeri.

“Kalau siswanya diliburkan, sudah sepatutnya sekolah swasta juga tidak menarik iuran kepada siswanya dong. Kan tidak adil jika siswa dirumahkan tapui iuran masih terus ditarik oleh pihak sekolah,” ujarnya.

Terpisah, guru sekolah swasta Kabupaten Bogor, Cici Mintarsih saat diminta komentarnya menyampaikan setuju.

“Siswa yang saat ini belajar di rumah dalam kondisi mewabahnya Corona memang perlu menghindari pertemuan dengan banyak orang. Jadi, perlu membuat iklim belajar, motivasi belajar, suasana belajar, dan persaingan belajar berubah,” tutur guru yang bertempat tinggal di Leuwiliang ini.

Dia menambahkan, jika sebelumnya orang tua yang biasanya mengerjakan beragam pekerjaan domistik sambil menonton televisi, kini harus menjaga suasana belajar di rumah tetap kondusif, tanpa menonton televisi.

“Orang tua sebagai representasi guru, saat ini memiliki fungsi ganda dalam arti harus mampu sebagai fasilitator, tetapi juga mampu sebagai motivator bagi anak selama jam belajar di rumah. Jadi diperlukan kerjasama yang baik antara orangtua dan guru. Kolaborasi orang tua dan guru tidak dapat berjalan dengan baik, manakala tidak dibantu oleh masyarakat. Ketika anak kabur dari rumah hendak bermain dengan teman-temanya, maka orang tua harus menyuruh anaknya segera pulang untuk belajar,” tukasnya.

Terpisah, salah satu siswa SMAN 6 Kota Bogor, Condolisa menyampaikan curhatnya dengan “iklim pendidikan mendadak” saat merebaknya Covid-19.

“Libur panjang dengan tinggal di rumah memang menjenuhkan. Saat ini orangtua adalah guru pengganti di rumah. Tentunya memang beda dengan di sekolah. Karena, belajar di rumah bias sembari tiduran di kamar. Tapi, yang paling utama, sudah tentu menjaga kesehatan demi mencegah Corona. Kalau pun harus diperpanjang berapa bulan lagi belajar di rumah karena Corona, ya saya setuju sekali,” tuntasnya sembari  tertawa. (nesto)