Ayo Bagikan Berita Ini

INTELMEDIA – Belajar dapat dilakukan dari mana saja, oleh siapa saja dan kapan saja. Seperti yang  disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah  menjadi sekolah”. Berangkat dari keyakinan ini guru juga dituntut untuk terus belajar  menambah pengetahuan dan keterampilan. Tidak terbatas ruang dan waktu untuk kita belajar  demi mencapai suatu kecakapan tertentu.

Empat kecakapan abad 21 yang telah diadopsi oleh Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan dalam pembelajaran di sekolah saat ini adalah, 1) kecakapan berfikir kritis dan  pemecahan masalah (critical thinking and problem solving skill), 2) kecakapan berkomunikasi  (communication skill), 3) kreativitas dan Inovasi (creativity and innovation), 4) kolaborasi  (collaboration). Bukan hanya siswa saja yang dituntut menguasai kecakapan tersebut. Namun,
guru sebagai fasilitator di kelas juga harus lebih dulu menguasainya.

Guru dituntut memiliki kecakapan berfikir kritis dan membuat pemecahan masalah  sesuai dengan urgensi masa kini. Kecakapan komunikasi juga diperlukan dalam menyusun sebuah soal yang baik dan dapat dimengerti oleh siswa. Berikutnya, kreativitas dan inovasi  dalam meramu sebuah pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.

Dengan berbagai platform yang kini tersedia baik berbayar maupun yang gratis guru  dapat melaksanakan evaluasi pembelajaran dengan berbagai bentuk. Beberapa contoh yang  populer saat ini karena tidak berbayar diantaranya adalah Google Form, Quizizz, Zipgrade,  juga Plickers dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pembelajaran dengan menggunakan media digital sudah sepatutnya dilaksanakan.  Saat ini kita menghadapi siswa milenial, sehingga guru juga harus memiliki pemikiran dan cara  mengajar yang milenial pula. Siswa belajar tanpa keterpaksaan karena sangat menyenangkan,  asessmen dikemas dalam bentuk permainan digital. Harapannya, kita sebagai guru dapat terus  mengembangkan kreativitas dalam menyusun pembelajaran yang menyenangkan dan efektif  untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Saat menggunakan evaluasi berupa platform digital kita dapat menemukan berbagai  keunggulan. Dengan adanya beberapa pilihan dalam menyajikan soal di aplikasi, maka kita  bisa memilih untuk tidak membatasi siswa dalam mencoba menjawab soal. Jika skor yang  diperoleh belum maksimal, siswa dipersilahkan untuk mengulang kembali memainkan  permainan. Sehingga, harapan untuk meuju ketuntasan belajar dapat tercapai.

Siswa juga merasa lebih senang karena tampilan penilaian belajar seperti saat  mereka bermain game. Belajar dengan keinginan sendiri untuk mencapai skor optimal menjadi  motivasi yang muncul dari diri siswa, sehingga orang tua hanya sekedar mendampingi belajar saja.

Selain itu guru juga dipermudah dalam menyajikan soal, mengedit, dan membuka  referensi soal yang sudah dibuat oleh orang lain. Kemudahan lain yang kita rasakan adalah saat  kita akan mengambil hasil rekap perolehan skor. Kita bisa melihat analisis jawaban tiap butir  soal dari semua peserta. Hal ini yang akan kita pakai sebagai refleksi pembelajaran. Sehingga  perencanaan pembelajaran berikutnya dapat kita susun lebih baik lagi.

Namun salah satu kendala umum yang ditemu selain keterbatasan fasilitas adalah  keterbatasan kita sebagai manusia untuk memulai hal yang baru. Keterbatasan kemauan untuk  belajar bukan menjadi alasan untuk stug dan tidak melakukan apapun. Untuk itu belajar dan  memiliki kemauan untuk memulai hal baru sangatlah penting, selangkah lebih maju lebih baik  daripada diam ditempat saja.(*)