Ayo Bagikan Berita Ini

Oleh : Walang Gustiyala
(Pengajar di Pesantren Tahfizh al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido, Cigombong – Bogor)

INTEL MEDIA – BOGOR – Kecerobohan Philadelphia sangat klasik, bahkan sampai hari ini masih menjadi dosa favorit berbagai wilayah setiap kali menghadapi pandemi, yakni tidak mengindahkan penjelasan dan saran para pakar.

Pasalnya bberapa hari sebelum parade digelar, sekelompok ilmuwan telah menghimbau untuk membatalkan pawai tersebut lantaran di sebuah kamp militer yang tidak jauh dari kawasan Broad Street, wabah yang diyakini sudah pergi belum bisa dipastikan sepenuhnya berakhir.

Namun mereka, para pemangku kebijakan kota, sama sekali tidak memedulikan saran-saran tersebut. Parade tetap digelar. Virus kembali menebar.

Di hari yang sama, sebuah kota yang berjarak lebih dari 800 mil dari Philadelphia menerapkan inisiatif lain supaya kurva kematian akibat pandemi tidak melejit ke atas. Dan yang terpenting, rumah sakit yang ada di kota tersebut mampu menampung semua yang terjangkit. Kota cerdas tersebut adalah St. Louis, sebuah kota mandiri di kawasan Missouri.

Untuk membandingkan dua kota ini, baiknya melihat kilas balik peristiwa semenjak beberapa bulan sebelumnya, baru kemudian bisa diraup serpihan-serpihan ilmu dari keduanya.
Spanish Flu pertama kali membunuh korbannya terjadi pada awal 1918, virus tersebut menyebar dengan pesat di kamp-kamp militer baik di Amerika Serikat maupun di daratan Eropa. Wabah ini menjangkit dua belah blok yang bersengketa dalam perang.

Begitu masuk musim panas, flu cukup mereda sehingga banyak yang percaya bahwa penyakit itu telah sirna selamanya. Ternyata tidak demikian, penurunan kurva dari kasus tersebut justru membawa lonjakan baru. Kali ini secara global, warga sipil banyak yang turut menuai getahnya.

Tiba pada bulan September, hampir seluruh elemen masyarakat Amerika Serikat menyadari bahwa flu kembali menyebar secara aktif.

St. Louis menanggapi informasi faktual ini jauh berbeda dengan Philadelphia. Hanya dalam waktu dua hari begitu segelintir warganya terjangkit, mereka bergegas menutup seluruh sekolahan, gereja, tempat-tempat hiburan, dan semua ruang publik. Tidak terkecuali.

Aktor di balik pembekuan kota tersebut adalah seorang pakar kesehatan bernama Max Carl Starkloff, yang sampai hari ini disebut sebagai Bapak Social Distancing. Ibarat obor bersambut, apa yang Starkloff usulkan 100% dijalankan oleh pemerintah selaku penentu kebijakan.

Banyak bukti-bukti berbentuk pemberitaan yang sampai hari ini bisa dibaca tentang kehebatan St. Louis kala itu, salah satunya adalah larangan keras membentuk sebuah kerumunan dengan jumlah lebih dari duapuluh orang sebelum wabah benar-benar berlalu.

Pun begitu virus tetap menyebar di sana, namun self quarantine dan social distancing yang diterapkan secara disiplin benar-benar jauh lebih efektif dalam memperlambat dan memperkecil kasus-kasusnya dibandingkan Philadelphia dan sejumlah kota lain.(Jm*)